Demo Omnibus Law Masih Gencar, Rupiah Menguat ke Rp14.620 per Dolar AS

Demo Omnibus Law Masih Gencar, Rupiah Menguat ke Rp14.620 per Dolar AS (Ilustrasi/Net)

NONSTOPNEWS.ID – Nilai tukar rupiah menguat di level Rp14.620 per dolar AS pada Kamis (22/10/2020) pagi. Posisi ini menguat 12 poin atau 0,09 persen dari Rp14.632 pada Rabu (21/10/2020) kemarin.

Rupiah menguat bersama mata uang Peso Filipina 0,01 persen. Sementara dolar Hongkong yang stagnan.

Sedangkan mayoritas mata uang Asia melemah dari dolar AS. Won Korea melemah 0,12 persen, ringgit Malaysia minus 0,12 persen, baht Thailand minus 0,12 persen, yen Jepang minus 0,1 persen, yuan China minus 0,09 persen, dan dolar Singapura minus 0,04 persen.

Seluruh mata uang utama negara maju juga melemah dari dolar AS. Dolar Australia melemah 0,31 persen, dolar Kanada minus 0,2 persen, rubel Rusia minus 0,18 persen, euro Eropa minus 0,12 persen, franc Swiss minus 0,09 persen, poundsterling Inggris minus 0,07 persen.

Kendati dibuka menguat, Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra melihat penguatan nilai tukar rupiah berpotensi tertahan pada hari ini karena pelaku pasar di dalam negeri mulai mewaspadai demo penolakan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja (UU Ciptaker) lagi.

“Pasar masih mewaspadai demo buruh hari ini, potensi kisaran Rp14.600 sampai Rp14.750 per dolar AS,” ungkap Ariston melansir dari CNNIndonesia.com, Kamis (22/10/2020).

Selain itu, rupiah juga dibayangi oleh kelanjutan pembicaraan paket stimulus ekonomi paket kedua dari AS. Kabar terakhir, DPR AS meyakini stimulus bisa diberikan sebelum gelaran pemilihan umum di Negeri Paman Sam.

“Semakin lama dikeluarkannya stimulus, pemulihan ekonomi AS semakin tertekan. Kekhawatiran pasar ini mendorong penguatan dolar AS kembali,” jelasnya. (Pm/red)